KEBERSAMAAN vs EGOISME

Selasa, 6 September 2016 08:13:04 - oleh : admin

Rating: 5.1/10 (18 votes cast)

 
 
KEBERSAMAAN vs EGOISME
KEBERSAMAAN.....
Satu kata yang mempunyai maknai dan arti yang sangat indah serta mengandung sesuatu yang dapat melahirkan 'kekuatan' yang begitu besar.
Siapa pun orang yang mendengar kata 'kebersamaan' pasti sangat tersentuh hatinya dan ingin merasakan arti dari sebuah kebersamaan.
 
Hal ini tidak terlepas dari begitu besarnya 'kekuatan' yang dapat dihasilkan dari sebuah kebersamaan.
Kekuatan yang dapat menghasilkan sesuatu, kekuatan yang dapat menyelesaikan sesuatu pekerjaan hingga persoalan atau permasalahan, hingga kekuatan peneguhan yamg mampu dihasilkannya.
 
Karena kekuatan besarnya 'kekuatan' yang dimiliki inilah yang membuat semua orang sangat mendambakan, menginginkan, merindukan, bahkan mencari-cari apa yang dinamakan 'kebersamaan' itu. Dengan 'kebersamaan' kita bisa saling berbagi, menyelesaikan masalah bersama, berjuang bersama, hingga merasakan kebahagiaan bersama.
 
Manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain. Ini lah yang mendorong manusia untuk kemudian membentuk kelompok, komunitas, perhimpunan, kekerabatan, paguyuban, dan masih banyak lagi istilah-istilah sepadan yang biasa digunakan. Dari sinilah terlihat bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa keterlibatan manusia lain di dalam hidupnya. Bahkan kebutuhan akan 'kebersamaan' di zaman modern pun masih dapat terlihat di saat mereka kemudian membentuk PT (Perseroan Terbatas), CV, Firma, Yayasan, dan lain sebagainya (#sadar atau tidak sadar).
 
Tetapi....
'Kebersamaan' yang sangat diidam-idamkan tersebut seringkali dirusak dengan sikap 'egoisme' yang sekali lagi sangat manusiawi. Karena sikap egois yang dimiliki setiap individu, makna dan arti 'kebersamaan' itu seringkali dianggap tidak dibutuhkan sama sekali.
 
Beruntung sekali jumlah penduduk bumi saat ini lebih dari tujuh milyar, sehingga jika merasa tidak cocok atau bersinggungan dengan lain, hingga yang paling ekstrem karena ingin dipandang sebagai pendiri atau pencetus dari 'kebersamaan' tersebut, dengan mudahnya kemudian (#bahkan dengan sedikit sombong) berpindah, bergabung, bahkan membentuk suatu kelompok, komunitas, perhimpunan, kekerabatan, paguyuban yang baru, atau apapun itu yang dapat mencerminkan 'kebersamaan'.
 
Haii....orang-orang yang berpikiran seperti itu....
Pernahkah kalian berpikir....jika dibumi ini hanya ada dua orang manusia (seperti pada zaman Adam dan Hawa), anda dan seorang manusia lain...???
Masih adakah pikiran atau keinginan untuk berpindah, bergabung, bahkan membentuk suatu kelompok, komunitas, perhimpunan, kekerabatan, paguyuban, atau apapun itu yang dapat mencerminkan 'kebersamaan' hanya karena merasa tidak cocok atau bersinggungan dengan lain, atau karena ingin dipandang sebagai pendiri atau pencetus dari 'kebersamaan' tersebut...???
 
Egoisme sebagai sesuatu sikap yang sangat manusiawi itu tadi tentu bukan harga mati. Kita dapat saja mengendalikan sikap egoisme kita tersebut dengan lebih bijak memandang segala sesuatu, terutama yang berkenaan dengan suatu 'kebersamaan' dimana kita sendiri berada di dalamnya.
Jangan sampai justru keegoisan itu yang lebih dominan dibandingkan nilai-nilai 'kebersamaan' yang tentunya akan memberikan lebih banyak manfaat dan kebahagiaan.
 
Kebersamaan akan lebih bermakna ketika kita saling merindukan. Kebersamaan itu sederhana, cukup rendah hati, mendengar, mengerti, dan memahami.
 
Mari....kita bina 'kebersamaan' dengan memulai suatu sikap yang boleh dikata anti-egoisme (#negative), yang boleh kita mulai dengan menepuk pundak orang-orang yang berada dalam 'kebersamaan' kita dengan mengatakan, "Masih ada AKU di sisimu". 
 
 
im-just-me-and-always-me.blogspot.com 

Versi cetak


Artikel Terkait